Kamis, 27 November 2025

Aku, Luka, dan Bahagia

 


Aku nggak tahu seberapa kuat ternyata diriku ini. Kadang, aku merasa nggak apa-apa berjalan sendiri. Tanpa dukungan keluarga, bahkan sering nggak dipeduliin pun. Sayangnya, dalam sudut hati kecilku, aku terlalu rapuh dan lemah. 

Kutanamkan dalam diri sebuah prinsip, jika nggak diberi, jangan minta. Aku bisa beli sendiri. Jika nggak ditanya, jangan bersuara. Mereka nggak akan pernah mendengar. Jika nggak punya sesuatu, jangan mengambil hak milik orang lain. Dan jika memang diberi sesuatu, syukuri, jangan bersikap tamak dengan menginginkan lebih. 

Kupikir semua akan berjalan baik-baik saja selama aku memegang prinsip tersebut. Siapa sangka, bahwa sesekali aku menangis karenanya. Aku ingin ditanya. Aku ingin diutamakan. Bukan sebagai orang terakhir yang diingat. 

Saat aku diam, aku mengalah, atau aku tersenyum mengatakan nggak apa-apa, bukan berarti aku ingin diabaikan. Seringkali hakku dilanggar dan dirampas. Nyatanya, mereka nggak pernah sadar atau sekadar minta maaf. 

Lalu apa yang kulakukan?

Nggak ada. Aku seakan pasrah dan menerima meski di pelupuk mataku telah berkumpul ribuan tetes air mata. Hanya saja aku kuat menahan. Tak ingin tangisku jatuh di depan mereka yang serakah. 

Inner child-ku terluka. Aku nggak pernah benar-benar sembuh. Dalam diam aku selalu berharap, "Oh, nanti kalau aku sudah menikah, aku akan beli sendiri. Nanti saat aku sudah hidup jauh dari mereka, aku akan beli dan masak makanan yang enak-enak tanpa harus menelan ludah. Nanti suamiku akan mewujudkan semua keinginanku. Nanti ... Nanti ... Entah kapan."

Semua pengharapan itu aku pendam dalam-dalam. Karena setengah diriku menyadari, bahwa untuk merasa bahagia, aku nggak perlu menunggu nanti atau orang lain mewujudkannya. Ini bukan tentang suami yang bisa membahagiakanku kelak. Melainkan tetangku, yang kurapa telah selesai dengan diriku sendiri.

Aku yang bertanggung jawab atas kebahagiaan diriku, bukan suami atau siapapun itu. Aku, hanya aku. Tak akan kubiarkan kebahagiaanku bergantung pada siapapun. Karena aku cukup tahu rasanya dikecewakan oleh harapku. 

Selasa, 01 Juli 2025

SEPUCUK SURAT


Teruntuk kamu yang saat ini kucinta, insyaAllah sampai sesurga. 

Terima kasih telah menjadi pendengar di saat selama ini tak pernah ada tempat untukku bersandar. 

Setiap kali aku berkeluh kesah, sering kukatakan bahwa aku malu untuk menyampaikan. Beberapa kali kutahan semua perasaan. Kubiarkan tertampung di sudut hatiku yang rapuh, kubiarkan campur aduk tak keruan. Namun, sekuat apa pun aku menyembunyikan, kau tetap bisa membaca diriku yang sedang terluka, juga berusaha sembuh sendirian.

Sayang, sungguh ... 

Aku tak ingin kau salah paham. Rasa maluku tercipta karena aku tumbuh di sebuah rumah yang menjadikanku seolah aku tak layak untuk dicintai, dilimpahi kasih sayang, dan dihargai. Saat Tuhan mengirimkanmu padaku untuk memenuhi tangki cintaku yang kosong, aku merasa malu dan tak layak.

Padahal aku manusia. Tuhanku saja melimpahkan banyak kasih sayang. Maka dengan kehadiranmu, seharusnya sudah cukup menjadi bukti kalau aku memang berhak dicintai. Sayangnya, kepercayaan diriku sering kali hilang dan menjadikanku rendah diri kala membersamaimu.

Diri ini sangat jauh dari kata sempurna. Kau bisa saja mendapatkan wanita yang lebih dariku dalam segala hal. Namun, kau begitu keras kepala memilihku dengan keyakinanmu yang besar. Dengan lantang, kau langitkan doamu agar aku selalu dilimpahi kebahagiaan. Alasanmu begitu sederhana, kau tak suka melihatku menangis. Kau ikut terluka setiap aku terluka.

Hal apa yang lebih luar biasa daripada dicintai begitu hebat oleh lelaki sepertimu?

Tidak ada.

Sayang, kau tahu bahwa hidup tak selalu tentang bahagia, bukan? Mungkin, nanti tutur atau sikapku tak sengaja membuatmu terluka. Ada masanya, mungkin kita tak akan saling bicara demi menjaga lisan tiap kali dikuasai amarah. Kuharap, apa pun yang akan kita hadapi kelak, kau mau meluruskanku dengan sisa rasa sabar. Maaf bila kau akan mendapatiku sama keras kepalanya denganmu. Sungguh, sebagai wanita, kadang aku juga kewalahan menghadapi segala hal dalam diriku.

Uhibbuka fillah, Sayangku. 

Fiddunya, Wal Akhirah.

Minggu, 29 Juni 2025

TENTANG RUMAH

Rumah.

Satu kata yang memiliki sejuta makna bagi setiap penghuninya. 

Kadang, rumah berarti kehangatan di mana orang-orang terkasih tinggal. Saling mendekap, melindungi, dan berbagi kasih sayang.

Namun, tak jarang kutemukan mereka yang tak lagi merasa punya rumah sekalipun telah lama tinggal di bawah atap yang kokoh. Jiwanya sepi, merintih, menangis sendirian. Pada akhirnya, yang tersisa hanya rasa sepi, senyap, dan pengabaian.

Seperti aku,

Tak pernah kurasa begitu muak tinggal satu atap dengan mereka yang disebut keluarga. Nyatanya, mereka dengan lantang mengatakan bahwa aku cuma numpang. Tak seharusnya aku berlagak bak tuan rumah. Sebab, rumah yang ditempati sekarang, hanya untuk mereka yang sudah mendapat bagian.

Sungguh, tak sejengkal pun dari tanah ini kuinginkan. Tak ada niat untuk menguasai ataupun merebut hak mereka yang telah tertulis jelas di warisan. Aku hanya meminta sedikit waktu untuk tetap tinggal. Bukan sampai tua, melainkan sampai hari pernikahan. 

Mungkin,

Mereka menganggapku sebagai ancaman. Mungkin juga karena aku bukan anak kesayangan. Setiap sikap mereka seolah-olah mengatakan bahwa aku harus cepat enyah. 

Tak apa.

Setidaknya, aku menyadari satu hal. Bahwa sedarah, tak cukup untuk kusebut keluarga sebagai tempatku pulang.

Minggu, 08 Juni 2025

CATATAN BUNUH DIRI

Aku tahu, catatan ini tidak akan pernah sampai pada siapa pun. Bukan tanpa sebab aku membuatnya. Aku hanya ingin menuangkan sampah-sampah di kepala kala ajakan kematian itu lebih menyenangkan. Kuharap setelahnya kau akan paham, bahwa aku ternyata tak sekuat yang kau lihat di permukaan.

Jika aku mati hari ini, orang yang ingin aku perdengarkan keluh kesahku adalah ibu. Sungguh, mungkin kini aku mencapai batasku. Aku tak sanggup lagi bertahan dengan berbagai tuntutan yang menyesakkan. Batinku lelah, jiwaku sudah lama ingin menyerah. Hanya tekadku lah yang mati-matian membuatku bertahan. Sayangnya, tekad itu perlahan kian padam.

Hunjaman kata-kata kasar dan memekakkan, mengendap hingga berkerak. Tak peduli seberapa banyak aku mencoba menghapusnya, noda itu kian kuat mencengkeram, perlahan mengikis seluruh jiwa. Sampai di satu titik, aku sadar bahwa tak ada lagi pegangan di tangan. Aku terombang-ambing, tak tahu lagi apa yang sebenarnya sedang kupertahankan. Karena sejauh yang aku ingat, diriku nyaris lebur dalam setiap ketidakberdayaan. 


Sabtu, 24 Mei 2025

PATAH [TAK] SENDIRIAN

Siapa sih yang nggak punya dream wedding? 

Aku juga mau pernikahanku dirayakan. Memakai gaun cantik, MUA impian, dekorasi pelaminan yang sudah lama diidam-idamkan, bahkan rangkaian prosesi adat yang sejak kecil kerap kulihat dan ingin kurasakan. 

Mimpi itu sangatlah dekat, tapi ternyata sangat jauh dari kenyataan. 

Tidak apa-apa. 

Mungkin, hanya kami sepasang calon pengantin yang sibuk bersiap bahagia. Tidak ada yang lain, tidak juga yang biasa disebut keluarga. 

[Wedding is only once. Its okay to be simple but you still have to wear something. I will handle financial side, documentation etc. You will manage the colour of your wedding dress and vehicle to register office. If  I love you and you ruin me financially or other means, so what? When you love someone so bad, you overlook everything]

Sepenggal ucapannya tak pernah berubah. Sungguh, sangat mudah baginya mewujudkan karena memang dari awal dia selalu bertanya. Namun, lagi ... rasanya tidak tega bila dalam hubungan ini hanya aku yang menjadi beban tanpa kontribusi apa-apa.

Berulang kali kusajikan kenyataan pahit di depannya. Tentang hidupku, tentang diriku yang tak pernah baik-baik saja. Kupikir dia akan berbalik arah dalam sekejap. Tak pernah kusangka, bahwa dia satu-satunya yang paling keras kepala dalam bertahan.

Sejenak, kutelan semua kata-kata yang siap meluncur di ujung lidah. Alih-alih mengutarakan riuhnya benak, tak ada lagi yang kuinginkan. Dia sudah lebih dari cukup bagiku sebagai tempat bersandar. Jadi, biarkan saja pernikahan kami demikian. 

Tanpa pesta,

Tanpa undangan.

Senin, 05 Februari 2024

MEMELUK LUKA

Teruntuk kamu yang sedang berdarah-darah karena luka yang terus menganga tanpa ada satu pun yang mampu melihat ... 

Aku ingin mengatakan, bahwa kita adalah sama, terbiasa mengenyam sepi sembari menyembunyikan tangis lewat tawa. Bukan kita tak ingin berbagi, melainkan terlalu sulit lisan ini untuk bertutur kata. Terlampau banyak tumpukan luka yang merajam hingga kita memilih tak lagi berkawan dengan kata percaya. Perlahan kita pun tak lagi menaruh harap pada manusia.

Lantas siapa yang selama ini kita andalkan?

Tidak ada.

Berbaur dalam keramaian hanyalah kamuflase agar kita tetap dianggap ada. Padahal entah sudah berapa kali kita mencoba untuk mati diam-diam. Kepala kita penuh dengan reka adegan kematian, mencari cara meregang nyawa tanpa rasa sakit dan paling cepat. Sayangnya, hal itu tak berujung menjadi penyebab kita menyerah. Mungkin, kita masih terlalu takut menghadapi kematian secara nyata. Teringat, bahwa kita hanya sekumpulan manusia yang berbalut dosa.

Pada akhirnya, yang bisa kita lakukan hanyalah tetap memeluk luka dengan erat. Berdamai dengannya hingga mati rasa.