Teruntuk kamu yang saat ini kucinta, insyaAllah sampai sesurga.
Terima kasih telah menjadi pendengar di saat selama ini tak pernah ada tempat untukku bersandar.
Setiap kali aku berkeluh kesah, sering kukatakan bahwa aku malu untuk menyampaikan. Beberapa kali kutahan semua perasaan. Kubiarkan tertampung di sudut hatiku yang rapuh, kubiarkan campur aduk tak keruan. Namun, sekuat apa pun aku menyembunyikan, kau tetap bisa membaca diriku yang sedang terluka, juga berusaha sembuh sendirian.
Sayang, sungguh ...
Aku tak ingin kau salah paham. Rasa maluku tercipta karena aku tumbuh di sebuah rumah yang menjadikanku seolah aku tak layak untuk dicintai, dilimpahi kasih sayang, dan dihargai. Saat Tuhan mengirimkanmu padaku untuk memenuhi tangki cintaku yang kosong, aku merasa malu dan tak layak.
Padahal aku manusia. Tuhanku saja melimpahkan banyak kasih sayang. Maka dengan kehadiranmu, seharusnya sudah cukup menjadi bukti kalau aku memang berhak dicintai. Sayangnya, kepercayaan diriku sering kali hilang dan menjadikanku rendah diri kala membersamaimu.
Diri ini sangat jauh dari kata sempurna. Kau bisa saja mendapatkan wanita yang lebih dariku dalam segala hal. Namun, kau begitu keras kepala memilihku dengan keyakinanmu yang besar. Dengan lantang, kau langitkan doamu agar aku selalu dilimpahi kebahagiaan. Alasanmu begitu sederhana, kau tak suka melihatku menangis. Kau ikut terluka setiap aku terluka.
Hal apa yang lebih luar biasa daripada dicintai begitu hebat oleh lelaki sepertimu?
Tidak ada.
Sayang, kau tahu bahwa hidup tak selalu tentang bahagia, bukan? Mungkin, nanti tutur atau sikapku tak sengaja membuatmu terluka. Ada masanya, mungkin kita tak akan saling bicara demi menjaga lisan tiap kali dikuasai amarah. Kuharap, apa pun yang akan kita hadapi kelak, kau mau meluruskanku dengan sisa rasa sabar. Maaf bila kau akan mendapatiku sama keras kepalanya denganmu. Sungguh, sebagai wanita, kadang aku juga kewalahan menghadapi segala hal dalam diriku.
Uhibbuka fillah, Sayangku.
Fiddunya, Wal Akhirah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar