Siapa sih yang nggak punya dream wedding?
Aku juga mau pernikahanku dirayakan. Memakai gaun cantik, MUA impian, dekorasi pelaminan yang sudah lama diidam-idamkan, bahkan rangkaian prosesi adat yang sejak kecil kerap kulihat dan ingin kurasakan.
Mimpi itu sangatlah dekat, tapi ternyata sangat jauh dari kenyataan.
Tidak apa-apa.
Mungkin, hanya kami sepasang calon pengantin yang sibuk bersiap bahagia. Tidak ada yang lain, tidak juga yang biasa disebut keluarga.
[Wedding is only once. Its okay to be simple but you still have to wear something. I will handle financial side, documentation etc. You will manage the colour of your wedding dress and vehicle to register office. If I love you and you ruin me financially or other means, so what? When you love someone so bad, you overlook everything]
Sepenggal ucapannya tak pernah berubah. Sungguh, sangat mudah baginya mewujudkan karena memang dari awal dia selalu bertanya. Namun, lagi ... rasanya tidak tega bila dalam hubungan ini hanya aku yang menjadi beban tanpa kontribusi apa-apa.
Berulang kali kusajikan kenyataan pahit di depannya. Tentang hidupku, tentang diriku yang tak pernah baik-baik saja. Kupikir dia akan berbalik arah dalam sekejap. Tak pernah kusangka, bahwa dia satu-satunya yang paling keras kepala dalam bertahan.
Sejenak, kutelan semua kata-kata yang siap meluncur di ujung lidah. Alih-alih mengutarakan riuhnya benak, tak ada lagi yang kuinginkan. Dia sudah lebih dari cukup bagiku sebagai tempat bersandar. Jadi, biarkan saja pernikahan kami demikian.
Tanpa pesta,
Tanpa undangan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar