Minggu, 29 Juni 2025

TENTANG RUMAH

Rumah.

Satu kata yang memiliki sejuta makna bagi setiap penghuninya. 

Kadang, rumah berarti kehangatan di mana orang-orang terkasih tinggal. Saling mendekap, melindungi, dan berbagi kasih sayang.

Namun, tak jarang kutemukan mereka yang tak lagi merasa punya rumah sekalipun telah lama tinggal di bawah atap yang kokoh. Jiwanya sepi, merintih, menangis sendirian. Pada akhirnya, yang tersisa hanya rasa sepi, senyap, dan pengabaian.

Seperti aku,

Tak pernah kurasa begitu muak tinggal satu atap dengan mereka yang disebut keluarga. Nyatanya, mereka dengan lantang mengatakan bahwa aku cuma numpang. Tak seharusnya aku berlagak bak tuan rumah. Sebab, rumah yang ditempati sekarang, hanya untuk mereka yang sudah mendapat bagian.

Sungguh, tak sejengkal pun dari tanah ini kuinginkan. Tak ada niat untuk menguasai ataupun merebut hak mereka yang telah tertulis jelas di warisan. Aku hanya meminta sedikit waktu untuk tetap tinggal. Bukan sampai tua, melainkan sampai hari pernikahan. 

Mungkin,

Mereka menganggapku sebagai ancaman. Mungkin juga karena aku bukan anak kesayangan. Setiap sikap mereka seolah-olah mengatakan bahwa aku harus cepat enyah. 

Tak apa.

Setidaknya, aku menyadari satu hal. Bahwa sedarah, tak cukup untuk kusebut keluarga sebagai tempatku pulang.

Minggu, 08 Juni 2025

CATATAN BUNUH DIRI

Aku tahu, catatan ini tidak akan pernah sampai pada siapa pun. Bukan tanpa sebab aku membuatnya. Aku hanya ingin menuangkan sampah-sampah di kepala kala ajakan kematian itu lebih menyenangkan. Kuharap setelahnya kau akan paham, bahwa aku ternyata tak sekuat yang kau lihat di permukaan.

Jika aku mati hari ini, orang yang ingin aku perdengarkan keluh kesahku adalah ibu. Sungguh, mungkin kini aku mencapai batasku. Aku tak sanggup lagi bertahan dengan berbagai tuntutan yang menyesakkan. Batinku lelah, jiwaku sudah lama ingin menyerah. Hanya tekadku lah yang mati-matian membuatku bertahan. Sayangnya, tekad itu perlahan kian padam.

Hunjaman kata-kata kasar dan memekakkan, mengendap hingga berkerak. Tak peduli seberapa banyak aku mencoba menghapusnya, noda itu kian kuat mencengkeram, perlahan mengikis seluruh jiwa. Sampai di satu titik, aku sadar bahwa tak ada lagi pegangan di tangan. Aku terombang-ambing, tak tahu lagi apa yang sebenarnya sedang kupertahankan. Karena sejauh yang aku ingat, diriku nyaris lebur dalam setiap ketidakberdayaan.