Rumah.
Satu kata yang memiliki sejuta makna bagi setiap penghuninya.
Kadang, rumah berarti kehangatan di mana orang-orang terkasih tinggal. Saling mendekap, melindungi, dan berbagi kasih sayang.
Namun, tak jarang kutemukan mereka yang tak lagi merasa punya rumah sekalipun telah lama tinggal di bawah atap yang kokoh. Jiwanya sepi, merintih, menangis sendirian. Pada akhirnya, yang tersisa hanya rasa sepi, senyap, dan pengabaian.
Seperti aku,
Tak pernah kurasa begitu muak tinggal satu atap dengan mereka yang disebut keluarga. Nyatanya, mereka dengan lantang mengatakan bahwa aku cuma numpang. Tak seharusnya aku berlagak bak tuan rumah. Sebab, rumah yang ditempati sekarang, hanya untuk mereka yang sudah mendapat bagian.
Sungguh, tak sejengkal pun dari tanah ini kuinginkan. Tak ada niat untuk menguasai ataupun merebut hak mereka yang telah tertulis jelas di warisan. Aku hanya meminta sedikit waktu untuk tetap tinggal. Bukan sampai tua, melainkan sampai hari pernikahan.
Mungkin,
Mereka menganggapku sebagai ancaman. Mungkin juga karena aku bukan anak kesayangan. Setiap sikap mereka seolah-olah mengatakan bahwa aku harus cepat enyah.
Tak apa.
Setidaknya, aku menyadari satu hal. Bahwa sedarah, tak cukup untuk kusebut keluarga sebagai tempatku pulang.

