Senin, 05 Februari 2024

MEMELUK LUKA

Teruntuk kamu yang sedang berdarah-darah karena luka yang terus menganga tanpa ada satu pun yang mampu melihat ... 

Aku ingin mengatakan, bahwa kita adalah sama, terbiasa mengenyam sepi sembari menyembunyikan tangis lewat tawa. Bukan kita tak ingin berbagi, melainkan terlalu sulit lisan ini untuk bertutur kata. Terlampau banyak tumpukan luka yang merajam hingga kita memilih tak lagi berkawan dengan kata percaya. Perlahan kita pun tak lagi menaruh harap pada manusia.

Lantas siapa yang selama ini kita andalkan?

Tidak ada.

Berbaur dalam keramaian hanyalah kamuflase agar kita tetap dianggap ada. Padahal entah sudah berapa kali kita mencoba untuk mati diam-diam. Kepala kita penuh dengan reka adegan kematian, mencari cara meregang nyawa tanpa rasa sakit dan paling cepat. Sayangnya, hal itu tak berujung menjadi penyebab kita menyerah. Mungkin, kita masih terlalu takut menghadapi kematian secara nyata. Teringat, bahwa kita hanya sekumpulan manusia yang berbalut dosa.

Pada akhirnya, yang bisa kita lakukan hanyalah tetap memeluk luka dengan erat. Berdamai dengannya hingga mati rasa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar